Kata "matematika" berasal
dari bahasa Yunani Kuno “μάθημα (máthēma)”, yang
berarti pengkajian, pembelajaran, ilmu, yang ruang lingkupnya menyempit, dan
arti teknisnya menjadi "pengkajian matematika", yaitu studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan, bahkan juga pada zaman kuno.
Sifat matematika adalah “μαθηματικός
(mathēmatikós)”, berkaitan dengan pengkajian, atau tekun belajar,
yang berarti matematis. Secara khusus, “μαθηματικὴ τέχνη
(mathēmatikḗ
tékhnē)”, di dalam bahasa Latin disebut ars mathematica, berarti
seni matematika.
Tanpa disadari matematika bisa menjadi alat
komunikasi yang mampu mengatasi berbagai macam permasalahan. Dibalik kesulitan
dan kesukaran rumus-rumus matematika, ternyata sejarah metematika telah
memberikan manfaat besar bagi peradaban manusia sepanjang masa dan perkembangan
modern masa depan manusia. Tanpa matematika, maka Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi tidak akan ada dan tanpa rumus-rumus matematika, maka ilmu pasti
tidak akan membantu manusia. Manfaat lain dari belajar sejarah matematika
adalah kita bisa mengetahui cara menemukan suatu teori dan juga mengenal tokoh
yang menemukan teori tersebut.
Matematika sebenarnya sudah sejak lama
dipelajari oleh manusia. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa
Negara/kekaisaran yang memakai matematika. Beberapa sejarah materi yang
ditemukan berhubungan dengan matematika, misalnya :
Sejarah
Pi, Pengertian dan Fakta menarik lainnya
Apakah pi itu ?? Pengertian Pi (π) adalah
sebuah konstanta dalam matematika yang merupakan perbandingan keliling
lingkaran dengan diameternya dan selalu konstan untuk setiap lingkaran yaitu
3.14159. Pi juga biasanya diartikan sebagai 1 putaran penuh lingkaran atau 1 pi
= 360 derajat. Huruf π adalah aksara yunani yang dibaca pi dan pi juga bisa dipakai
dalam penulisan. Nilai π yang lazim digunakan adalah 3.14 atau 22/7.
Sejarah
Pi
Babel
kuno
menghitung luas lingkaran dengan mengambil 3 kali kuadrat jari-jarinya, yang
menghasilkan nilai pi = 3. Satu Babel tablet (1900-1680 SM) menunjukkan nilai
3.125 untuk pi yang merupakan pendekatan lebih dekat.
Sekitar tahun 1650 SM, Rhind Papyrus membuktikan bahwa orang
Mesir menghitung luas lingkaran dengan formula yang memberikan nilai perkiraan
untuk pi = 3.1605 .
Budaya kuno di atas menemukan
pendekatan pi dengan pengukuran. Perhitungan pertama pi dilakukan oleh Archimedes dan Syracuse sekitar 287-212 SM. Archimedes memperkirakan luas
lingkaran dengan menggunakan Teorema Pythagoras untuk menemukan dua poligon
regular, yaitu polygon tertulis di dalam lingkaran dan polygon dimana lingkaran
itu dibatasi. Sebenarnya lingkaran terletak di antara area ditulis dan dibatasi
polygon. Luas polygon memberikan batas atas dan batas bawah untuk daerah
lingkaran. Archimedes tahu bahwa ia menemukan nilai pi tetapi hanya sebuah
pendekatan dalam batas-batas tersebut. Dengan cara lain, Archimedes menunjukkan
bahwa pi adalah antara 3 1/7 dan 3 10/71.
Sekitar 429-501, pendekatan
serupa digunakan oleh Zu Chongzhi,
yaitu matematikawan brilliant dan astronom Cina. Zu Chongzhi menghitung nilai rasio keliling
lingkaran dengan diameter menjadi 355/113. Untuk menghitung akurasi untuk pi,
dia selalu teratur menulis 24.576-gon dan melakukan perhitungan panjang yang
melibatkan ratusan akar kuadrat dan dilakukan sampai 9 desimal.
Matematikawan mulai menggunakan
huruf Yunani π di tahun 1700-an. Diperkenalkan oleh William Jones pada 1706 dan penggunaan simbol π dipopulerkan oleh Euler pada tahun 1737.
Abad ke-18, matematikawan
Perancis yang bernama Georges Buffon
merancang cara untuk menghitung pi berdasarkan probabilitas. Pada tahun 1706,
seorang ahli Matematika bahasa Inggris memperkenalkan abjad Yunani phi (π)
untuk mewakili nilai yang dikatakan. Namun, pada tahun 1737, Euler resmi
mengadopsi simbol ini untuk mewakili bilangan.
Pada tahun 1897, legislative dan
Indiana mencoba menentukan nilai yang paling akurat untuk phi, namun ternyata
kebijakan ini tidak berhasil. Sebagian besar orang pada waktu itu tidak
mengetahui fakta bahwa lingkaran memiliki jumlah sudut yang tak terbatas. Nilai
dari phi adalah banyaknya diameter lingkaran yang akan dipaskan dengan keliling
lingkaran.
Nilai dari phi adalah 22/7 dan
ditulis sebagai π=22/7 atau π=3.14.
Fakta menarik lainnya tentang phi
diambil dari huruf Yunani “Piwas”.
Itu juga merupakan Abjad Yunani yang ke-16. Seorang pengusaha di Cleveland, AS
menerbitkan buku pada tahun 1931 untuk mengumumkan bahwa nilai pi adalah
256/81. Jika ingin mencetak miliaran dari decimal phi, maka angka itu akan
merentang dari New York City ke Kansas.
Fakta-Fata
Menarik Lainnya Mengenai Phi
Tahukah Anda tentang Yasumasa Kanada?? Yasumasa Kanada
adalah professor di Universitas Tokyo yang membutuhkan waktu 116 jam untuk
menemukan sebanyak 6442450000 tempat decimal Phi dengan computer.
Pada tahun 1706, John Machin memperkenalkan rumus untuk
menghitung nilai Phi, yaitu :
π/4 = 4*arc tan (1/5) – arc tan
(1/239).
Pada tahun 1949, ia juga
menghabiskan waktu sekitar 70 jam untuk menghitung 2037 tempat decimal phi
menggunakan ENIAC (Electronic numeric Integrator and Computer).
Seorang ahli matematika Jerman, Ludolph van Ceulen mendedikasikan
seluruh hidupnya untuk menghitung 35 tempat decimal pertama phi.
Pada tahun 1768, Johann Lambert membuktikan nilai Phi
adalah sebuah bilangan irrasional dan pada tahun 1882, Ferdinand Lindemann yang juga ahli Matematika terkenal membuktikan
Phi adalah bilangan yang sulit dipahami. Ada orang yang hafal semua angka
decimal phi dan orang tersebut membuat lagu dan music berdasarkan digit dan
phi.
Sejarah
Bilangan Prima
Beberapa orang menduga bahwa
manusia telah mengenal bilangan prima sekitar 8000 tahun yang lalu. Hal ini
terkait dengan penemuan tulang Ishango di Afrika oleh para arkeolog, pada
tulang tersebut terdapat tiga kolom takik. Pada satu kolom terdapat bilangan
prima antara 10 sampai dengan 20. Beberapa ahli sejarah lainnya berpendapat
bahwa takik pada tulang tersebut hanya sebuah catatan tanggal dan secara tidak
sengaja berupa bilangan prima.
Masyarakat pertama yang
mempelajari bilangan prima secara lebih mendalam adalah masyarakat Yunani Kuno.
Yunani Kuno memiliki kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Mereka banyak berpikir
tentang sains, termasuk matematika. Pada saat itu mereka mempelajari bahwa ada
bilangan yang tidak dapat dibagi lagi dan bilangan tersebut merupakan dasar
dari banyak bilangan artinya setiap bilangan dapat terbentuk dari perkalian
bilangan-bilangan tersebut, bilangan tersebut adalah bilangan prima.
- 325 SM - Euclid
Euclid
membuktikan bahwa bilangan prima memiliki jumlah yang tidak terbatas dan juga
membuktikan teorema dasar aritmatika. Di dalam teori bilangan, teori dasar
arimatika menyatakan bahwa setiap bilangan bulat lebih dari satu dapat
dituliskan sebagai perkalian unik dari bilangan prima, misalnya 6936 = 23
x 31 x 172 ; 1200= 24 x 31 x
52 adalah dua contoh bilangan yang memenuhi teorema bahwa
bilangan-bilangan tersebut dapat dituliskan sebagai perkalian dari bilangan
prima.
- 276BC – Eratosthenes
Eratosthenes
menciptakan metode untuk menemukan bilangan prima yang disebut dengan “The
Sieve of Eratosthenes” atau dalam Bahasa “Saringan Eratothenes”. Contohnya :
untuk
menemukan bilangan prima lebih kecil atau sama dengan 30.
- 1588 – Mersenne
Seorang biarawan dari Perancis bernama Marinne Mersenne mengemukakan sebuah
formula yang kini disebut “Mersenne Number” atau “Angka Mersenne” yaitu, Mp = 2p – 1 (dua pangkat
p dikurang 1) merupakan sebuah bilangan prima. Sebagai contoh, 22 - 1= 3 adalah prima, 23
- 1 = 7 adalah
prima, 25 - 1 = 31 adalah
prima, dan seterusnya. Faktanya, matematikawan telah membuktikan bahwa
Mersenne number dapat berupa bilangan prima jika eksponennya adalah bilangan
prima. Namun, tidak semuanya dapat menghasilkan bilangan prima, contohnya, 211 - 1 = 2047 = 23 x 89 adalah bukan prima. Bilangan prima Mersenne
terkecil adalah 2 dan bilangan prima Mersenne terbesar yang telah diketahui
adalah 243,112,609 – 1.
- 1601 – Fermat
Perkembangan
penting berikutnya dilakukan oleh Fermat pada awal abad ke-17. Ia menyatakan
bahwa p adalah prima maka untuk setiap bilangan bulat a kita
mendapatkan ap = a modulo p atau lebih jelasnya, p|ap- a (p
dapat membagi ap- a tanpa sisa) .
Misalnya:
23 –
2 = 6 , 3|6 (3 dapat membagi 6
tanpa sisa)
35
– 3 = 240 , 5|240 (5 dapat membagi 240
tanpa sisa)
47
– 4 = 16380 , 7|16380 (16380
habis dibagi 7)
Namun,
tidak semua angka dapat memenuhi formula ini, contohnya, 341 bukan bilangan
prima karena 31x11=341, tetapi 2341 - 2 dapat
dibagi 341.
Fermat
menulis surat kepada matematikawan lain pada masanya, yaitu Marin Mersenne.
Pada salah satu dari surat yang ia kirimkan, Fermat mengemukakan bahwa bilangan
yang dihasilkan dari 2n + 1 akan selalu prima jika n adalah pangkat dari 2
Bilangan yang dihasilkan dari rumus tersebut
disebut “Fermat Numbers” atau “Fermat Prime”. Namun, hal tersebut tidak sampai
100 tahun kemudian karena Euler menunjukan pada kasus berikutnya yaitu n=5,
232 + 1 = 4294967297 dapat
dibagi 641 dan bukan prima.
- 1777- Gauss
Gauss mempelajari kepekatan Bilangan Prima. Dia
menemukan hubungan antara sebuah bilangan dengan jumlah bilangan prima yang
lebih kecil dari bilangan tersebut. Dia mengemukakan: Π(x)≈ x/log x
- Aplikasi
Saat ini
bilangan prima memiliki beberapa aplikasi, terutama pada proses pengkodean
dengan komputer. Salah satunya adalah enkripsi. Enkripsi adalah suatu proses
transformasi data menggunakan perhitungan tertentu sehingga tidak dapat dibaca
oleh orang lain kecuali bagi mereka yang telah mengetahui cara perhitungan
tersebut.
·
Kesimpulan
Bilangan prima merupakan bilangan yang hanya
memiliki dua faktor, yaitu 1 dan bilangan itu sendiri. Bilangan ini memiliki
keistimewaan, yaitu tidak adanya pola yang mengatur kemunculannya, bilangan
prima ini nampak muncul secara acak. Masyarakat pertama yang diketahui telah
mempelajari bilangan ini secara lebih mendalam adalah para matematikawan dari
Yunani Kuno. Selain itu, banyak ahli matematika yang telah mencoba untuk mengungkap
misteri dari bilangan ini pada abad modern. Saat ini bilangan prima
diaplikasikan pada komputer dalam hal pengkodean. Selain itu, pencarian
bilangan prima terbesar masih terus dilakukan.
Sejarah
Segitiga Pascal
Segitiga “Pascal” dikenal di China sekitar tahun 1261. Di
Negara China, segitiga pascal digunakan sebagai sarana untuk menghasilkan
koefisien binomial. Tidak sampai abad ke-11, metode untuk memecahkan persamaan
kuadrat dan kubik terpecahkan, walaupun mereka tampaknya telah ada sejak
millennium pertama. Ketika itu, Jia Xia memperumum akar persamaan kuadrat dan
kubik dengan prosedur akar yang lebih tinggi dengan menggunakan deretan angka
yang kita kenal sebagai “Segitiga Pascal”. Dengan metode yang bisa digunakan,
segitiga pascal juga digunakan untuk memecahkan persamaan polinom tingkat
apapun.
Ada beberapa bukti bahwa nomor
segitiga akrab bagi Arab astronom, penyair dan matematikawan Omar Khayyam pada
awal abad ke-11. Kemungkinan besar bahwa nomor segitiga datang ke Eropa dari
China melalui Arabia. Pada tahun 1527, Appianus memberikan gambaran China
tentang koefisien binomial, yang sering disebut segitiga Pascal pertama kalinya
diterbitkan sebelum kematian Appanius. Blaise Pascal bukan orang pertama di
Eropa untuk belajar koefisien binomial. Blaise Pascal dan ayahnya Etienne telah
bekerja sama dengan ayah Marin Mersenne, yang menerbitkan sebuah buku dengan
tabel koefisien binomial pada tahun 1636. Banyak penulis yang mendiskusikan
ide-ide sehubungan dengan perluasan binomial, jawaban untuk masalah kombinasi
dan figurate angka, angka-angka yang berhubungan dengan bentuk seperti seitiga,
persegi, tetrahedral dan piramida.
Pada tahun 1523, Nicolo Tartaglia
pertama kali menerbitkan perluasan angka. Sekitar 30 tahun kemudian, dalam
risalah umum, ia menerbitkan segitiga dalam bentuk tabel. Tartaglia adalah
matematikawan pertama yang mempublikasikan rumus umum untuk memecahkan
persamaan kubik. Namanya dalam bahasa Italia berarti 'stammerer'. Julukan ini
kejam untuknya setelah luka wajah parah yang dideritanya pada usia dua belas
tahun ketika diserang oleh seorang prajurit yang menyerang kampung halamannya
di Brescia yang hampir membunuhnya. Luka-luka ini membuat dia susah berbicara
dan istirahat dalam hidupnya.
Pada tahun 1591, Francois Viete
memberikan nama untuk beberapa kolom pertama segitiga dalam bahasa Latin;
'numeri trianguli', 'pyramidales', 'triangulo-trianguli',
'triangulo-pyramidales', nama-nama ini juga digunakan pada abad berikutnya oleh
Pierre de Fermat dan William Oughtred, matematikawan Inggris yang mempengaruhi
banyak bangsa yang datang setelah dia.
Pada tahun 1631, William Oughtred
menerbitkan Clavis Mathematicae, yang mempengaruhi siswa nya John Wallis dan
kemudian dimiliki dalam 3 edisi cetak oleh Isaac Newton; Wallis dan Newton yang
berperan penting dalam pekerjaan yang menghubungkan koefisien binomial ke
bidang baru kalkulus pada abad ini.
Pada tahun 1633, Waktu kehidupan
karya Henry Briggs berjudul Trigonometria Britannica diterbitkan oleh temannya
Henry Gellibrand setelah dua tahun kematiannya. Dia memiliki sebuah bab pada
bilangan figurate, yang ia merujuk sebagai 'calcuator banyak kegunaan'.
Pada tahun 1654, Blaise Pascal
masuk menyesuaikan dengan Pierre de Fermat dari Toulouse tentang beberapa
masalah dalam menghitung peluang dalam kemungkinan permainan. Pada tahun 1679
diterbitkan dasar dari Pascal dalam teori probabilitas sebagai pencetus dari
konsep harapan dan penggunaannya untuk memecahkan “Problem of Point” serta
pembenaran untuk menyebutkan segitiga aritmetika yaitu “Segitiga Pascal”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar